spot_img
spot_img
BerandaDAERAHPHTC Madrasah Ala PT. APA Amburadul. PBM Ribuan Siswa Berantakan.

PHTC Madrasah Ala PT. APA Amburadul. PBM Ribuan Siswa Berantakan.

Padang |sumbar.redaksisatu.id
PHTC ( Program Hasil Terbaik Cepat ) Madrasah 2025 adalah program nasional Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dijalankan oleh Kementerian PUPR dan Kementerian Agama untuk merevitalisasi dan merenovasi sarana prasarana madrasah rusak agar layak dan nyaman, sepertinya sia- sia, serta upaya menggrogoti APBN.

Memasuki Minggu terakhir Januari 2026, rehabilitasi MTsN 2 Payakumbuh, pekerjaan PT. APA masih berantakan

Berdasarkan data yang diperoleh pelaksanaan PHTC ( Program Hasil Terbaik Cepat ) Rehabilitasi dan Renovasi Prasarana Madrasah PHTC Provinsi Sumatera Barat 2, yang dilaksanakan PT. Andica Parsaktian Abadi sesuai kontrak kerja tersebar di delapan Madrasah Kabupaten/ Kota yakni, yakni MAS Plus Padang Ganting, MTsN 7 Padang Parlaman, MTsS Muhammadiyah Kurai Taji, MTsN Lima Puluh Kota, MAN 3 Kota Payakumbuh, MTsN 2 Kota Payakumbuh, MTsN 2 Kota Padang, MTsS An-Nur, terkesan sarat KKN dan berpotensi di jerat UU Tipikor, karena telah menguras APBN 2025 itu.

Berdasarkan pengamatan wartawan pekerjaan PHTC di MTsN 2 yang berada di Talawi Kelurahan Ompang Tanah Sirah Kec. Payakumbuh Utara oleh PT. Andica Parsaktian Abadi yang berkantor di Jakarta Timur sesuai kontrak kerja 126 hari kalender, Nomor : 04//PJKIHO201/Gs6/2025. SPMK tanggal 28 Agustus 2025,  dan Konsultan PT. Sarana Budi Prakarsaripta dan PT Citra Yasa Persada ( KSO ), senilai Rp 4 Miliar, hingga akhir Januari 2026, terlihat belum siap dan masih berantakan.

Sementara mengutip statemen pihak rekanan dengan dalih agar pekerjaan bisa disiapkan sesuai kontrak 126 hari kalender ( PHO Desember 2025- red ) telah membuat ribuan santri MTsN 2 Payakumbuh sejak Senin, 8/9/2025, hingga Desember mendatang, telah bertebaran di ungsikan PBM nya dampak PHTC ( Program Hasil Terbaik Cepat ) Rehabilitasi dan Renovasi Prasarana PHTC Madrasah itu, hingga detik ini masih menumpang belajar.

Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri ( MTsN 2 ) Payakumbuh, Yarisman Ucok, pasca ditinggalkan DR. Asafik Kudri S.Ag, M Ag, via pesan singkatnya, dari tanggapannya terkesan ada main mata, “sejauh ini progres pasca penambahan durasi disebabkan kondisi cuaca di Sumbar sehingga pendistribusian bahan / material terganggu. Untuk progres fisik sekitar 80 % dan Insya Allah pertengahan Februari 2026 bisa kita serah terima. Sedangkan selain fisik sudah kita terima berupa Alat peraga, Buku Bacaan siswa, Komputer labor, ungkap Kepsek.

Ditambahkan, terkait proses belajar mengajar anak didik berjumlah 953 siswa itu, Yarisman sebutkan tetap berjalan di tiga titik. Kita bersama Komite  sepakat menyewa SMK  WB, SMK Kosgoro, SMA PGRI. Hal itu bagaimana anak- anak kita tetap telayani proses belajarnya, ujar Kepsek.

Dipaparkan, proses belajar dan mengajar ( PBM ) anak didik berjumlah 953 siswa itu terpaksa diungsikan di 11 kelas di SMK Kasgoro, 6 kelas di MTI Koto Panjang, dan 5 kelas di SMA PGRI,, sejak Senin, 8/9/2025 kemaren, hingga Desember mendatang.

Sementara, Kereno Nirmala, Penanggung jawab PT. APA, rekanan pelaksanaan Rehabilitasi dan Renovasi Prasarana PHTC MTsN 2 Payakumbuh, terlihat menutup diri sembari bertanya, ” Darimana Bapak dapati nomor saya”, kilahnya sembari tidak menjawab konfirmasi wartawan.

Novri Hendri, ST, Pengamat Jasa Konstruksi paparkan kekhawatirannya pelaksanaan pekerjaan revitalisasi pada delapan Madrasah di delapan Kabupaten/ Kota, diduga sarat KKN karena labrak Perpres Nomor 46 Tahun 2025 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 yang mengubah Perpres 16/2018 secara tegas melarang penggabungan beberapa kegiatan yang tersebar di berbagai lokasi jika menurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan di lokasi-lokasi tersebut secara terpisah.

Kekhawatiran Novri, Apakah Pengawas, Tenaga Ahli yang terdaftar pada proses tender/ Lelang hanya satu orang, bisa optimal mengawasi pekerjaan yang tersebar di delapan titik Madrasah di  delapan Kabupaten/ Kota, tanyanya.

Begitu juga halnya Konsultan Pengawas yang harus dilapangan mengawasi pekerjaan tersebut. Terakhir, tidak mungkin juga jumlah  Cpengawas dari BPPW Sumbar berjumlah delapan orang setiap harinya mengawasi PHTC ( Program Hasil Terbaik Cepat ) Rehabilitasi dan Renovasi Prasarana Madrasah itu, tutup Novri heran. ( AB )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

Related News